Blog Sukapets

Kucing Terus Menerus Mengeluarkan Air Liur – Penyebab Dan Cara Menangani

Jika kamu perhatikan, kucing jarang mengeluarkan air liur, berbeda dengan anjing yang selalu mengeluarkan liurnya. Kucing memang lebih jarang mengeluarkan air liur, contohnya, jarang terlihat kucing meneteskan liur saat menunggu makanan. Tapi bukan berarti kucing tersebut tidak pernah ngiler atau mengeluarkan air liur. Misalnya, saat kucing baru bangun tidur, terkadang dagu kucing bisa terasa basah.

Walaupun jarang mengeluarkan liur, terkadang frekuensi dan jumlah air liur yang dikeluarkan kucing bisa menunjukkan kondisi kesehatan dari kucing tersebut.

Tergantung dari frekuensi, banyaknya air liur, dan gejala-gejala lainnya, ada beberapa kondisi dimana air liur yang dikeluarkan kucing adalah normal. Namun, terkadang kondisi dimana kucing mengeluarkan air liur atau ngiler tidak normal dan segera membutuhkan perhatian.

Karena itu, pada artikel kali ini kami akan membahas mengenai penyebab dan cara menangani kucing terus menerus mengeluarkan air liur yang tergolong tidak normal, sehingga kamu dapat memberikan penanganan yang tepat saat hal itu terjadi.

Selain itu, kami juga akan membahas tentang apa saja perbedaan air liur yang normal dengan yang tidak normal, penyebab keluarnya air liur tersebut, dan bagaimana cara mengobati kucing yang sedang mengalami kondisi tersebut.

Kucing Mengeluarkan Air Liur

Alasan kucing ngiler atau mengeluarkan air liur bisa bermacam-macam. Pada umumnya, mengeluarkan air liur adalah fungsi tubuh yang normal, namun apabila kucing mengeluarkan air liur secara berlebihan, maka ini adalah kondisi yang tidak normal. Kondisi ini biasa disebut sebagai hipersalivasi. Hipersalivasi terkadang bisa berbahaya, sehingga membutuhkan perhatian khusus.

Sebagai fungsi tubuh yang normal, kucing biasanya bisa mengeluarkan air liur saat gembira, misalnya saat bermain atau saat sedang tidur. Di lain sisi, jika kucing mengeluarkan air liur terus-terusan selama berjam-jam, kemungkinan kucing sedang mengalami hipersalivasi.

Supaya kamu lebih memahami perbedaannya, berikut ini akan kami jelaskan mengenai kapan kucing mengeluarkan air liur yang masih dianggap normal dan kapan yang tidak normal.

Kucing Mengeluarkan Air Liur Secara Normal

Walaupun tidak sering mengeluarkan air liur, jika kamu mendapati kucing kamu sedang ngiler, tidak bisa disimpulkan bahwa kucing tersebut sedang sakit.

Kucing juga bisa mengeluarkan air liur secara normal, contohnya saat sedang memijat-mijat kamu, saat sedang bermain, saat merenggangkan badan, atau saat tidur.

Menurut para ahli, mengeluarkan air liur sering kali merupakan tanda relaksasi dan kesenangan kucing. Para ahli mengira bahwa kucing mengeluarkan air liur saat sedang mengingat atau merasakan sensasi kembali ke masa kecil kucing tersebut.

Saat menyusui, anak kucing sering meremas-remas kakinya pada induknya untuk merangsang pengeluaran ASI. Perilaku ini menghasilkan pengalaman minum ASI yang nyaman dan menyenangkan. Kegiatan ini juga menjadi waktu untuk bonding antara anak dan induk kucing.

Saat kucing mencapai usia dewasa, perasaan yang sama juga dirasakan saat kucing melakukan aktifitas memijat-mijat. Karena otak kucing mengkorelasikan aktifitas ini dengan pengalaman masa kecilnya, aktifitas ini memicu otak untuk mengeluarkan air liur karena kaitannya dengan pengalaman menyusui.

Karena itu, jika kucing yang sedang ada di pangkuan mulai memijat, jangan kaget jika kucing tersebut mengeluarkan air liur. Hal ini normal jadi tidak perlu dikhawatirkan. Bahkan bisa dibilang ini merupakan salah satu cara kucing milikmu menunjukkan rasa cinta.

Tidak seperti anjing, kucing biasanya tidak mengeluarkan air liur saat melihat makanan. Namun, terkadang kucing juga bisa mengeluarkan air liur saat sedang menunggu makanan. Jika kucing mengeluarkan air liur saat melihat atau mencium bau makanan, tetapi tidak di waktu lain, kemungkinan besar kondisinya normal dan tidak perlu dikhawatirkan.

Stres atau ketakutan juga dapat menyebabkan kucing mengeluarkan air liur untuk sementara, misalnya, saat mengendarai mobil, saat kunjungan ke dokter hewan, atau saat berada di dalam suatu acara yang bising.

Jika kucing terlihat sangat stres secara rutin, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter hewan untuk mendiskusikan hal tersebut. Jika air liur dan stres hanya berlangsung sementara dan berhenti dengan sendirinya, kemungkinan besar kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan.

Kucing Mengeluarkan Air Liur Secara Tidak Normal

Seperti yang sudah dibahas di atas, mengeluarkan air liur adalah fungsi normal dari tubuh kucing. Namun, lain halnya jika kucing mengeluarkan air liur terus menerus. Kondisi hipersalivasi ini biasanya menandakan adanya masalah kesehatan yang sedang terjadi.

Jika kucing mengeluarkan air liur secara tidak normal dan mengalami hipersalivasi, kamu harus segera menghubungi dokter hewan untuk segera memeriksa kondisi kucing secara menyeluruh. Umumnya, konsultasi rutin ke dokter hewan disarankan untuk melakukan pemeriksaan supaya bisa mendeteksi adanya masalah sebelum masalahnya menjadi besar.

Dokter hewan biasanya akan melakukan diagnosis mengenai kondisi kucing, apakah air liur yang dikeluarkan normal atau tidak normal dan butuh perhatian khusus.

Penyebab Kucing Mengeluarkan Air Liur Secara Tidak Normal

Penyebab kucing mengeluarkan air liur secara tidak normal atau hipersalivasi bisa bermacam-macam. Beberapa yang cukup sering menjadi penyebabnya adalah penyakit mulut dan gigi, kucing tidak sengaja makan zat asing, dan keracunan. Berikut adalah penjelasannya.

Penyakit Mulut dan Gigi

Kucing dapat mengalami berbagai masalah mulut dan gigi yang tidak terdeteksi sehingga menyebabkan terjadinya rasa sakit atau bahkan menimbulkan penyakit. Kondisi ini biasanya bisa menyebabkan kucing hipersalivasi atau mengeluarkan air liur secara berlebihan.

Misalnya saja, sariawan, sakit gigi, penyakit gusi, dan infeksi adalah beberapa penyebab keluarnya air liur kucing secara berlebihan yang cukup umum.

Dokter hewan biasanya akan memeriksa mulut kucing untuk mencari tanda-tanda masalah gigi dan mulut. Jika penyakit gigi terlihat, dokter hewan biasanya akan merekomendasikan pembersihan gigi oleh dokter. Bila penyakitnya sudah lebih parah, terkadang juga dokter hewan akan merekomendasikan cabut gigi. Bila penyakit gigi atau mulut disebabkan oleh bakteri, kemungkinan besar dokter gigi akan merekomendasikan antibiotik.

Mual dan Muntah

Sering kali, kucing yang mengalami mual dan muntah bisa mengeluarkan air liur lebih banyak. Penyebab mual dan muntah bisa beragam. Penyebab yang cukup umum adalah parasit internal, penyakit ginjal, atau kondisi gastrointestinal. Jika kucing terlihat mual, nafsu makan buruk, dan muntah-muntah, sebaiknya segera periksakan kucing ke dokter hewan.

Selain pemeriksaan, dokter hewan mungkin akan merekomendasikan tes laboratorium untuk melihat fungsi organ, sel darah, dan kandungan urine dengan lebih baik. Hasilnya dapat membantu menentukan langkah perawatan dan pengobatan yang tepat, sesuai dengan penyebabnya.

Benda Asing di Dalam Mulut Kucing

Salah satu penyebab yang cukup sering menyebabkan kucing mengeluarkan air liur secara berlebihan adalah adanya benda asing yang masuk ke mulut kucing. Contoh benda asing yang sering masuk ke dalam mulut kucing biasanya adalah rumput-rumputan, mainan kucing, atau bisa saja benang yang terjatuh.

Bila kamu melihat adanya benang atau tali yang panjang yang menggantung dari mulut kucing, tidak disarankan untuk langsung menariknya. Benang atau tali tersebut bisa saja sedang menyangkut di organ dalam kucing. Sebaiknya, periksakan ke dokter hewan.

Umumnya benda asing akan keluar melalui kotoran dalam 24 jam, tetapi apabila benda asing tersebut justru menyumbat atau telah melukai organ dalam kucing, maka bisa jadi sangat berbahaya bagi kucing.

Paparan Racun

Kucing yang mengeluarkan air liur secara berlebih juga bisa terjadi jika kucing terpapar pada racun. Zat-zat beracun untuk kucing bisa terkandung di banyak benda, seperti contohnya bahan kimia pada pestisida, bahan kimia  pada pembersih, atau bahkan makanan manusia.

Beberapa contoh racun yang menyebabkan hipersalivasi, atau kucing mengeluarkan liur secara berlebih, adalah pestisida atau obat anti kutu yang bukan untuk kucing.

Terkadang, kamu bisa mendapati kucing yang sedang mencoba memakan zat yang beracun pada kucing. Jika kamu mendapati kucing sedang mencoba memakannya, kamu bisa mencoba mengeluarkannya secara hati-hati.

Jika kamu menduga kucing peliharaanmu telah terpapar racun, misalnya saja dari racun pestisida atau bahkan dari makanan manusia seperti coklat, segera bawa kucing tersebut ke dokter hewan terdekat. Tindakan paling tepat untuk menangani kucing keracunan tentunya adalah membawa kucing tersebut ke dokter hewan untuk segera ditangani.

Luka atau Trauma pada Mulut Kucing

Luka pada mulut kucing seringkali dapat menyebabkan kucing mengeluarkan air liur yang berlebihan. Misalnya, kucing yang mengunyah benda yang terlalu keras atau berbahaya, bisa menyebabkan mulut kucing terluka dan menyebabkan hipersalivasi.

Biasanya, kucing juga bisa mengalami luka pada mulut akibat benturan. Terkadang juga mulut kucing terluka akibat perkelahian dengan kucing lain. Luka pada mulut kucing ini bisa menyebabkan kucing mengeluarkan air liur secara berlebihan.

Karena itu, jika kucing sedang mengalami hipersalivasi, sebaiknya dicek ke dokter. Luka atau trauma dalam mulut kucing biasanya tidak bisa dilihat secara kasat mata, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih teliti.

Penyebab Kucing Mengeluarkan Air Liur Secara Tidak Normal Lainnya

Selain beberapa penyebab yang umum di atas, ada banyak hal lain yang dapat menyebabkan kucing mengeluarkan air liur terus menerus secara tidak normal. Beberapa penyebab kucing mengeluarkan air liur secara tidak normal lainnya adalah:

Cara Menangani Kucing Mengeluarkan Air Liur Secara Tidak Normal

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, cara menangani hipersalivasi pada kucing tergantung dari penyebabnya. Perawatan yang tidak tepat bisa menyebabkan gejala makin parah, atau bahkan bisa menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Umumnya pemulihan dari penyebab hipersalivasi cepat dan tidak membutuhkan perhatian khusus. Namun, jika penyebab utama hipersalivasi berkaitan dengan penyakit yang membutuhkan operasi, maka perlu perhatian lebih pada masa pemulihan.

Supaya pemulihan bisa berlangsung dengan baik, ikuti dengan teliti semua anjuran dokter hewan. Biasanya pemilik kucing harus memperhatikan bekas sayatan yang dilakukan untuk operasi dan mengamati supaya bisa mendeteksi secara dini adanya infeksi.

Terkadang, obat penghilang rasa sakit atau antibiotik mungkin perlu diberikan secara rutin setiap hari. Dokter hewan kemungkinan juga akan meminta kamu kembali datang menemui mereka untuk perawatan lebih lanjut, untuk melihat dan memonitor hasil operasi dan menilai kesehatan kucing secara keseluruhan.

Selain itu, sangat penting juga untuk menjaga makanan yang masuk ke mulut kucing milikmu. Jauhkan benda-benda yang dapat menyebabkan keracunan atau berbahaya saat tertelan.

Perawatan yang tepat penting untuk dilakukan karena itu perlu dilakukan diagnosis yang teliti. Karena itu penting untuk membawa kucing yang sedang mengeluarkan air liur secara berlebih dan tidak secara normal ke dokter hewan.

Walaupun begitu, pemilik kucing juga disarankan untuk memahami apa pengobatan dan perawatan yang tepat untuk kucing yang sedang hipersalivasi. Berikut penjelasannya.

Keracunan

Pemulihan dari keracunan sangat tergantung pada seberapa cepat keracunan itu diidentifikasi dan zat apa yang telah dikonsumsi. Umumnya, jika kucing keracunan, isi perutnya mungkin perlu dikosongkan. Obat-obatan tertentu dapat diberikan untuk melawan efek racun, dan zat karbon aktif juga dapat diberikan untuk menghentikan penyerapan racun oleh organ-organ di dalam tubuh.

Masalah Gigi dan Mulut

Jika kucing memiliki masalah gigi dan mulut, biasanya akan dilakukan pembersihan gigi dan mulut, perubahan rutinitas kebersihan dan kesehatan mulut, atau operasi. Operasi gigi kemungkinan besar akan diperlukan jika ditemukan abses atau gigi berlubang. Terkadang juga diperlukan untuk melakukan pencabutan gigi. Untuk mencegah terjadinya infeksi, dokter hewan juga biasanya akan memberikan antibiotik.

Kanker

Kucing yang sedang mengeluarkan air liur secara berlebih dan tidak normal juga bisa menunjukkan gejala-gejala kanker atau tumor. Kanker termasuk penyakit yang sangat berbahaya bagi kucing, karena itu perlu cepat diobati. Beberapa jenis kanker, seperti kanker darah, kanker tulang, dan beberapa jenis kanker lainnya akan sulit diobati jika terlambat dideteksi.

Biasanya, jika ditemukan tumor ganas pada kucing, tergantung separah apa tumornya, dokter hewan akan merekomendasikan operasi pengangkatan tumor. Pengobatan lain biasanya dengan kemoterapi atau terapi radiasi.

Infeksi saluran pernapasan

Infeksi saluran pernapasan juga merupakan salah satu penyebab hipersalivasi yang cukup umum. Kebanyakan kucing sembuhdari penyakit ini jika diberikan pengobatan dan perawatan yang tepat. Perawatan tambahan dapat sangat membantu dalam tahap pemulihan. Contoh-contoh perawatan tambahan yang sering diberikan adalah cairan intravena, pengaturan kelembaban udara, serta asupan makanan dan vitamin tambahan.

Masalah Ginjal atau Hati

Penyakit-penyakit yang menyerang ginjal atau hati kucing kerusakan hati atau gagal ginjal bisa menyebabkan kucing mengeluarkan air liur secara berlebihan (hipersalivasi)

Biasanya, komplikasi ini akan memerlukan perawatan dan pengobatan yang berkelanjutan selama sisa hidup kucing, karena tidak adanya pengobatan yang benar-benar menyembuhkan kerusakan hati dan gagal ginjal. Dokter hewan biasanya akan menyaranakn diet khusus yang perlu diikuti untuk membantu meringankan masalah pada kedua organ tersebut.

Kemasukan Benda Asing

Untuk mengeluarkan benda asing yang menyebabkan air liur, terkadang kucing mungkin perlu diberi obat penenang. Dalam kasus tertentu, dimana benda asing yang dimakan tidak bisa dikeluarkan, kemungkinan akan memerlukan operasi pembedahan untuk mengeluarkan benda tersebut dari dalam tubuh kucing.

Rabies

Rabies sebenarnya cukup jarang ditemui pada kucing dibandingkan dengan anjing, namun upaya pencegahan yang memadai tentunya tetap diperlukan demi mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.

Jika kucing kamu didiagnosis menderita rabies, maka kucing tersebut harus dikarantina. Mengingat bahayanya penyakit rabies, pemberian vaksinasi pada kucing untuk mencegah rabies harus menjadi bagian dari kunjungan dokter hewan tahunan oleh semua pemilik kucing.